HUBUNGAN BURUH DAN ALAM


Bumi adalah perwujudan “Ibu Pertiwi”, simbolisasi ini menempatkan kedudukan bumi sebagai kerahiman yang penuh kasih. Ia menjadi pelindung bagi segenap isinya termasuk manusia didalamnya. Bumi dalam pandangan kosmologi timur dipahami berdasarkan prinsip feminin di mana adanya suatu hubungan dialektis dan co-existence yang saling melengkapi satu sama lainnya. Hubungan antara penciptaan dan perusakan, penyatuan dan perpecahan menjadi siklus pergerakan dinamis alam semesta. 

Pandangan yang menempatkan bumi sebagai subordinasi kekuasaan manusia menjadikannya objek eksploitasi dan penjarahan. Alhasil, bumi dijadikan sumber keruk tak habis-habisnya sehingga muncullah krisis ekologi disana-sini. Terancam dan terganggunya siklus ekologi ini disebabkan oleh cara pandang antroposentrisme dan androsentrisme. Pembangunan disebut-sebut sebagai biang keladi dari lahirnya krisis ekologi ini.

Sejak revolusi industri hingga kini, Pembangunan telah mengabaikan dan mengubah kedudukan alam dari terra mater menjadi sumber keruk dan sudah bisa ditebak, terjadinya penjarahan besar-besaran terhadap alam beserta isinya. Paradigma pembangunan yang antroposentrik membuat pengelolaan sumberdaya alam sebagai komoditas berdasarkan nilai tukar dan nilai tambah. Disinilah kapitalisme bekerja dengan buas yang tak pernah puas terhadap apa yang dimilikinya. Hasrat untuk menguasai, mengeruk, mengeksploitasi dan mendominasi menjadikan alam terus-menerus menanggung deritanya demi peningkatan pertumbuhan profitabilitas kapitalisme. Agar kapitalisme dapat berkerja maka dibutuhkan satu set perangkat legitimasinya. Ilmu pengetahuan sebagai landasan epistemologinya; egosentrisme sebagai bangunan etiknya; dan reduksionisme sebagai landasan operasionalnya. Dan, itu semua melegitimasi praktik kapitalisme dalam memperlakukan alam.

Masing-masing perusahaan dan sektor ekonomi yang terfragmentasi, baik milik swasta maupun milik negara, hanya memikirkan efisiensi dan laba mereka sendiri, tak peduli tingginya biaya sosial dan ekologisnya. Logika efisiensi internal ini telah disediakan oleh reduksionisme. Yang diperhitungkan hanya sifat-sifat suatu sistem sumberdaya yang menghasilkan laba melalui penjarahan dan ekstraksi; sifat-sifat yang menstabilkan proses-proses ekologi tetapi tidak menjarah ini secara komersial diabaikan dan akhirnya dirusak. Misalkan, dalam paradigma reduksionis, suatu hutan diubah menjadi kayu komersial dan kayu diubah menjadi serat selulosa untuk industri bubur kayu (pulp) dan kertas. Hutan, tanah dan sumber daya plasma nutfah kemudian dimanipulasi untuk meningkatkan produksi bubur kayu. Bahkan perubahan bentuk ini disahkan secara ilmiah sebagai peningkatan produktivitas secara keseluruhan, walaupun hal itu mungkin menurunkan produksi air dari hutan, atau mengubah keanekaragaman bentuk-bentuk kehidupan yang membentuk komunitas hutan. Ekosistem yang hidup dan beranekaragam dianiaya dan dirusak oleh kehutanan “ilmiah” dan pengembangan “kehutanan”. Dengan demikian ilmu reduksionis adalah asal mula krisis ekologis yang kian meningkat, karena menyangkut perubahan alam sedemikian rupa sehingga proses-proses organiknya dan pengaturan-pengaturannya serta kemampuannya melakukan permudaan dirusak.

Kaum Buruh dalam ekonomi subsisten, yang memproduksi dan mereproduksi kekayaan secara kemitraan dengan alam, merupakan ahli dalam hal pengetahuan holistis dan ekologis mereka tentang proses-proses alam. Tetapi cara-cara alternatif untuk mengetahui ini, yang disesuaikan pada keuntungan sosial dan kebutuhan penghidupan, tidak diakui oleh paradigma reduksionis. Hal ini karena reduksionisme gagal melihat saling keterkaitan alam atau hubungan antara kehidupan, pekerjaan dan pengetahuan kaum buruh dengan penciptaan kekayaan. Reduksionisme menyeluruh dicapai ketika alam dikaitkan dengan sebuah pandangan tentang ekonomi di mana uang adalah satu-satunya ukuran nilai dan kekayaan. Persoalan dengan uang adalah bahwa ia mempunyai hubungan asimetris terhadap kehidupan dan proses-proses hidup. Penjarahan, manipulasi dan perusakan kehidupan dalam alam dapat menjadi sumber kehidupan alam dan kemampuannya menopang kehidupan. Sifat asimetris inilah yang bertanggung jawab atas krisis ekologi yang semakin parah akibat berkurangnya potensi alam yang menghasilkan kehidupan, sejalan dengan pengumpulan modal serta perluasan “pembangunan” sebagai proses yang menggantikan hidup dan subsistensi dengan tunai dan laba.
Pada penjelasan ini dapat kita saksikan betapa sistem kapitalisme yang ditopang oleh kuasa ilmu pengetahuan membuat Ibu Pertiwi bersusah hati. Paradigma pembangunan yang patriarkis dengan sangat brutal dan semena-mena menghancurkan tatanan kosmis antara manusia dan alam yang semestinya tetap saling menopang untuk keberlangsungan kehidupan. Daya gerak alam yang dinamis seakan dihentikan dan dibuatnya menjadi mekanis/statis; alam ditundukkan dan pasif terhadap kehendak rakus manusia. Pada akhirnya, alam sebagai pengejawantahan prinsip feminin sengaja dimatikan dan seakan tak berdaya. Hal ini ditandai, sekali lagi, siklus penghancuran ekologik yang kian mendekati ambang senjakala—bahkan kita saat ini dan akan datang semakin merasakan betapa besar daya rusaknya. Alam serta merta mengalami disequilibrium; ketidakseimbangan yang membuat alam tidak bisa lagi menyediakan sumber penghidupan.

Dan celakanya apa yang disebut sebagai kemajuan adalah tak lebih dari cara pandang antroposentrisme yang menempatkan bumi sebagai mesin peningkatan surplus kapital dan objek penjarahan. Jika sudah habis dan tidak berguna lagi maka dicampakkan dan ditinggalkan. Lantas, bandit-bandit rakus itu dengan segala kuasanya mencoba untuk mencari kemungkinan meninggalkan bumi dan mengkapling planet-planet di jagat semesta ini.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.