May Day Hijau 2017

May Day Hijau 2017

Beberapa hari kedepan kita kembali akan sampai pada tanggal 1 Mei yang lazim di sebut May Day atau Hari buruh Internasional. Tentu semua organsasi khususnya serikat pekerja sudah siap berperan dalam peringatan May Day tersebut. Berbagai aktivitas dan kegiatan bersiap di lakuakan. Dan hl ini merupkan agenda tahunan yang biasa di gelar.

May Day 2017 kali ini FSPS mengangkat isu May Day Hijau 2017. dengan tema : Sayangi Ibu Bumi “.Tema ini diangkat sebagai bentuk respon terhadap munculnya ketidakadilan atas banyaknya konflik tanah antara rakyat dengan pengusaha / pemodal dan rakyat melawan penguasa / pemerintah. Sudah barang tentu rakyat kecil lah yang paling menderita atas konflik ini.

 Bumi berperan sebagai induk bagi manusia yang melahirkan berbagai jenis tanaman, air, tanah dan segala kebermanfaatan untuk kelangsungan hidup manusia sering dibalas dengan eksploitasi yang berlebihan Hal ini bukan anggapan kosong. Maraknya kasus kebencanaan yang terjadi di bumi pertiwi ini menggambarkan kecongkakan manusia terhadap alam. Tinggi hati tersebut tidak terlepas dari cara pandang bahwa manusialah yang menguasai alam dengan berbagai teknlogi termutakhir yang diciptakan seakan alam yang telah rusak bisa digantikan perannya dengan teknologi’.
             
Mengemukanya  penolakan  pembangunan salah satu industri semen Indonesia di Jawa Tengah akhir Desember 2016 lalu  oleh sejumlah masyarakat dan kasus serupa lainnya  yang pernah terjadi di negeri ini, membuat pemerintah daerah sampai tingkat nasional mesti mempertimbangkan  secara mendalam mengambil sebuah keputusan menerima segala investasi asing yang kita kenal dengan korporasi multi nasional (MNC),  atau sebutan lainnya penanaman modal asing (PMA) dan segala bentuk investasi, khususnya yang merugikan alam dan masyarakat sekitar.

Seringnya latar belakang  peningkatan ekonomi kota ,wilayah, bahkan nasional, pengurangan angka pengangguran, produksi lapangan kerja dan alasan kuantitatif ekonomi lainnya menjadi pembenaran tokoh birokrat memberikan izin.

 Padahal kita tahu bersama bahwa operasi perusahan oleh money men memberikan dampak negatif terhadap alam Indonesia bahkan sering kali semena-mena terhadap  hak masyarakat kecil, para petani dan masyarakat adat yang memiliki hak atas lahan tersebut yang sudah dimanfaatkan bertahun-tahun lamanya. Ekses lainnya yang tak kalah merugikan yaitu rusaknya hutan dan lingkungan, memusnahkan berbagai species dari ke anekaragaman hayati kebanggaan Indonesia sebagai negara mega diversity terbesar ke 2 dunia setelah Brazil .

Benar bahwa dalam pemberian izin, sering kali sudah melakukan kajian yang komprehensif terkait dengan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan yang termaktub dalam kajian lingkungan hidup strategis (KLHS) dan analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) yang merupakan pengejawantahan dari UU 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Akan tetapi tidak menjamin pembangunan yang dilakukan memenuhi kaidah pembangunan yang berkelanjutan. Lebih lanjut apabila kita melihat bencana alam yang terjadi pada tahun 2016 menurut data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat 713 bencana banjir, 60 bencana banjir dan longsor, dan 552 bencana tanah longsor yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

 Secara spasial, jumlah kejadian bencana alam yang terjadi banyak berada di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur yang mana tidak bisa terelakan bahwa wilayah-wilayah tersebut merupakan wilayah primadona dalam melakukan investasi bukan hanya karena alasan upah buruh yang murah, tetapi juga sumber daya yang terdapat di bawah tanahnya juga menjanjikan.Kejadian di wilayah-wilayah tersebut seharusnya menjadi catatan penting bagi pemerintah di berbagai daerah di tanah air agar tidak mengejar keuntungan ekonomi semata tetapi kelestarian dan dampak bagi masyarakat kecil, petani, masyarakat adat dan lainnya juga harus dipikirkan dengan serius untuk memberikan akses bukan saja akses secara ekonomi tetapi juga akses terhadap sumber daya alam yang telah mereka gunakan secara turun temurun.

Dari sekian banyak kasus, tidaklah salah bila disimpulkan bahwa sebagian bencana tersebut terjadi akibat dari ulah manusia sendiri yang melukai kalau tidak bisa dianggap memerkosa alam. Bencana alam yang terjadi tersebut seakan menggambarkan bahwa alam mencari posisi yang nyaman buat dirinya dan ketika itu terjadi, manusialah yang menjadi korban. Padahal sudah satu dekade silam bahkan lebih telah di gaungkan fenomena “bunuh diri ekologis” (ecological suicide) dan bunuh diri perkotaan (urbicide atau urban suicide). Di katakan seperti itu karena tokoh-tokoh yang notabene dipercaya oleh rakyat untuk mengelola kota yang lebih baik tentunya, malah yang melukai dan membunuh kotanya dengan berbagai kebijakan yang pastinya merusak keseimbangan alam-manusia-lingkungan binaan (Budihardjo, 2014).
             
Kearifan Lokal

Pendekatan ekologis turun temurun diwariskan oleh nenek moyang di negeri ini yang secara umum memahami bahwa alam sepatutnya perlu dijaga. Walaupun barangkali tidak dilandasi dengan suatu teori atau keilmuan melainkan agama, kepercayaan atau mitos. Misalnya ada suatu pandangan umum masyarakat lokal yang enggan untuk menebang pohon besar karena adanya penunggu yakni makhluk halus. Jika ada yang berani untuk menebang, diyakini hal buruk akan terjadi pada yang menebang. Hal yang didasarkan atas sebuah kepercayaan tersebut jika dikaji secara ilmiah memiliki kebermanfaatan secara ekologis sebab keberadaan pohon-pohon besar dan tua tersebut tidak hanya memberikan keteduhan, menyegarkan (mengubah CO2 menjadi O2) mengurangi panas atau temperatur udara dan menahan longsor, tetapi juga berperan dalam menjaga dan menyerap air tanah. Selain itu di Bali misalnya yang paling terkenal dengan suatu konsep Tri Hita Karana yang selalu mempertautkan tiga komponen yaitu alam-manusia-Tuhan.

 Poin yang ingin disampaikan adalah dengan modal kearifan masyarakat lokal mengenai menjaga lingkungan dan alam menjadi modal dasar dan selanjutnya diberikan pendidikan memadai mengenai pembangunan yang berkelanjutan yang pada akhirnya diharapkan akan timbulnya gerakan- gerakan volunter alias sukarelawan yang  menjaga lingkungan dan alam.

Tidaklah mustahil, konsep tersebut berhasil diterapkan di Singapura yang mana masyarakatnya kritis terhadap isu lingkungan dan mengambil peran dalam mereduksi permasalahan lingkungan yang tentunya lebih efisien, efektif dan dari segi biaya lebih sedikit dibandingkan cara-cara yang dilakukan secara formal oleh pemerintah.

Peran Buruh dalam Menjaga Lingkungan

 Buruh atau Pekerja merupakan bagian tidak terpisah dari rantai produksi dan seluruh proses produksi khusunya di industri manufaktur di pastikan mengahasilkan limbah juga yang berupa limbah padat ,cair dan gas / udara. Hal ini menjadi penting buat pekerja / buruh dan serikat pekerja / buruh. Di sini di perlukan peran serta pekerja/buruh dan seikat pekerja/buruh untuk berkontribusi memantau , memonitori proses penanganan di tempat kerja masing-masing. Sehingga diharapkan pencemaran langsung dari bahan cair,padat dan gas/udara bisa di hindari dan di kendalikan.

  Selain peran serta kedalam ( tempat kerja ) pekerja/buruh juga di harapkan ikut berperan keluar dan berpartisifasi dalam upaya perlindungan dan pelesatarian alam. Pekerja/buruh dengan organisasinya mempunyi potensi dan pengaruh besar jika bisa bersinergi dengan elemen / komunitas penggiat lingkungan dalam mendukung proses proses advokasi alam dan lingkungan. Pelibatan pekerja/buruh atau serikat pekerja/buruh akan menjadi poin penting buat penggiat lingkungan sehingga mereka ( penggiat lingkungan ) punya energi tambahan dalam isu isu lingkungan hidup.

  Diharapkan keluarannya ke depan bisa merubah kota dan wilayah menjadi lebih manusiawi yang seimbang antara alam-manusia-lingkungan binaan, menciptakan masyarakat yang berwawasan ekologi yaitu masyarakat yang peduli terhadap sinar matahari, udara, air tanah, tumbuh-tumbuhan hijau dan karunia alam lainnya yang dilahirkan oleh ibu bumi; sebuah masyarakat yang mengendalikan konsumsi sumber-sumber alam dan energi secara massal dan berusaha mendaur ulang menggunakan sumber-sumber alam secara efektif; sebuah masyarakat yang berusaha keras kembali ke alam dengan membuang sampah yang telah di olah atau di daur ulang untuk memperkecil beban lingkungan; dan masyarakat yang mampu menjaga alamnya dari tangan-tangan kapitalis yang merusak alam.

  Marilah kita bersikap adil pada alam raya. Tuhan YME menciptakan bumi dan seisinya yang berlimoah untuk umatnya. Tapi , Tak akan cukup untuk satu makhluk serakah dan tugas kita menjaga,merawat dan melestarikanya untuk anak cucu kita kela

Selamat Hari Buruh 2017
Agus Humaedi
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Singaperbangsa

Note : Sebagian tulisan diambil dari Tulisan  M. Faizal Banapon di portal.malutpost.co.id

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.