PEREMPUAN TANGGUH INDONESIA

Kartini satu abad lebih kemudian sejak kelahirannya 21 April 1879, tidak pernah menyangka jika  emansipasi wanita di Indonesia sungguh bukan barang langka dan bukan baru sekarang.  Meskipun kemudian yang dilakukan perempuan-perempuan berikut ini lebih kepada tuntutan untuk tetap hidup dan menafkahi keluarga mereka.   Mereka sesungguhnya adalah perempuan-perempuan perkasa, mereka juga seorang ibu bagi anak-anaknya.  Dan mereka tidak pernah terjebak untuk minta dikasihani apalagi untuk meminta-minta….
Lihat saja sebahagian dari mereka, yang sehari-hari bekerja  agar dapat turut menopang nafkah keluarga ini :
  • TUKANG BANGUNAN WANITA
I
Sebuah hal yang biasa di Bali, perempuan menjadi tukang bangunan.   Sebab perempuan dinilai lebih rapi dan teliti dalam mengerjakan finishing sebuah bangunan, seperti mendempul dan mengecat.
  • SUPIR WANITA
Ibu ini adalah salah seorang supir wanita yang mulai banyak ditemui di Indonesia.  Ditangan supir perempuan ini keselamatan  puluhan penumpang menjadi tanggungjawabnya.
  • TUKANG BECAK  WANITA
Meskipun tergolong langka, profesi tukang becak yang identik dengan profesinya kaum pria ternyata dapat juga digeluti oleh wanita.
  • TUKANG GALI PASIR WANITA
Demi upah Rp25 ribu per meter kubik pasir, sejumlah wanita rela berkutat sekitar 8 jam per hari menggali pasir di tengah Sungai Aek Doras, persisnya di kawasan Sibolga Julu Kota Sibolga. Kutu air dan rematik menjadi ancaman tak kasat mata, namun tidak dihiraukan demi nafkah keluarga.
  • PEKERJA KASAR WANITA
Wanita-wanita di pedalaman Kalimantan ini  tanpa sungkan berbaur dengan pekerja kasar pria lainnya.  Tidak ada lagi batasan bahwa pekerjaan kasar hanya untuk pria semata.
  • TUKANG PECAH BATU WANITA
Wanita-wanita pemecah batu ini menjadi penopang utama ekonomi keluarga mereka.  Seperti ditemui di Kampung Jugajembang, Desa Sukarksa, Kecamatan Sukajaya, Bogor.
  • KULI ANGKUT
Sejumlah wanita yang menggeluti pekerjannya dengan mengandalkan fisik (tenaganya) sebagai kuli angkut barang, mengaku hasilnya hanya untuk kebutuhan makan dalam sehari. Dari sekian banyak orang penjual tenaga untuk membawa barang kebanyakan didominasi kaum wanita.  Mereka diantaranya dapat dijumpai di Pasar Legi Songgolangit Ponorogo.
Dan masih banyak lagi perempuan yang mengerjakan pekerjaan yang ‘seharusnya’ dikerjakan oleh kaum pria.  Mereka sepatutnya mendapat perhatian lebih oleh Pemerintah melalui program-program pemberdayaan perempuan.  Sebab mereka adalah perempuan, sebab mereka adalah Kartini masa kini, sebab salah satu dari mereka adalah ibu-ibu kita adanya.
Foto Dari berbagai sumber

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.